Featured Posts
Recent Articles

Materi MENERAPKAN VIDEO UNTUK BRANDING DAN MARKETING

MENERAPKAN VIDEO UNTUK BRANDING DAN MARKETING

SIMULASI DIGITAL KELAS SEPULUH SEMESTER GENAP

A.   PENGERTIAN BRANDING DAN MARKETING

1.   BRANDING

Branding, merupakan sebuah kata yang berasal dari kata dasar Brand, yang berarti Merek. Akan tetapi, ketika kita mencari arti kata Branding didalam kamus bahasa inggris, kita tidak akan menemukan arti yang sesuai. Sedangkan begitu banyak macam pengertian branding yang bertebaran didunia maya hingga buku sekalipun, yang tentunya bisa membingungkan kita. Lalu bagaimana arti branding seharusnya ?

Didalam hal ini, kita menterjemahkan kata Branding dengan arti Memperkuat merek produk ataupun jasa. Kita semua mengetahui, bahwa fungsi dasar dari sebuah merek adalah sebagai pembeda antara yang satu dengan yang lainnya. Namun, dengan adanya dinamika didalam derasnya kompetisi pasar, sebuah merek membutuhkan kekuatan dan pengelolaan.

Masih banyak yang rancu  pada pengertian brand vs branding. Brand   adalah   merek   yang  dimiliki  oleh   perusahaan,   sedangkan branding adalah kumpulan kegiatan komunikasi yang dilakukan oleh perusahaan   dalam   rangka   proses   membangun   dan   membesarkan brand. Tanpa dilakukannya kegiatan komunikasi kepada konsumen yang disusun dan direncanakan dengan baik, maka sebuah merek tidak akan dikenal dan tidak mempunyai arti apa-apa bagi konsumen atau target konsumennya.

Unsur-unsur   yang   mempengaruhi   kekuatan   sebuah   merek adalah, dari apa yang anda lihat (tangible), dan dari apa yang anda dengar dan yang anda rasakan (intangible).

Kedua unsur diatas merupakan syarat utama untuk membangun kekuatan sebuah merek didalam kompetisi pasar. Lalu, elemen apa saja yang terdapat di kedua unsur tersebut ? Elemen-elemen yang terdapat didalam kedua unsur tersebut adalah sebagai berikut :
a) Tangible      : Produk, packaging/kemasan, identitas visual, dsb.
b) Intangible   : Kualitas produk dan jasa.


PROSES BRANDING  SEJAK AWARENESS HINGGA LOYALTY

Dalam proses komunikasi brand, ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian. Pertama, sudah pada tahap mana branding tersebut?  Apakah  brand  sudah  pada  tahap  dikenal  (aware),  tahap
pemahaman tentang arti brand tersebut, tahap menyukai, atau tahap mencintai atau loyal.
Branding  yang  baik  adalah  memilih  tipe  aktivitas  brand  yang disesuaikan dengan situasi pencapaian nilai brand itu sendiri. Brand yang belum dikenal, harus fokus pada awareness building. Brand yang sudah    dikenal    tetapi    kurang    pemahaman,    berarti    perlu    kerja keras untuk   menjelaskan   apa   yang   bisa   diberikan   brand   kepada konsumen.
Brand   yang   sudah   dikenal   dan   dipahami,   harus   dicarikan kegiatan yang akan meningkatkan minat mencoba atau membeli. Kegiatan ini sering disebut dengan istilah Brand Activation. Brand yang sudah dikenal, dipahami, dan dibeli harus dipikirkan untuk membuat konsumen beli lagi, dan lagi, dan lagi. Ini adalah tahapan yang disebut dengan proses pembinaan loyalitas brand. Pada tahap ini, brand sudah bisa dikategorikan sebagai strong brand.  Proses branding haruslah kontekstual, disesuaikan dengan situasi brand dan tahapan pencapaiannya.

 
2.  MARKETING

Marketing atau Pemasaran mempunyai peranan yang sangat penting bagi semua usaha, Karena Marketing atau pemasaran mempunyai kedudukan sebagai penghubung antara perusahaan pembuat produk dengan Masyarakat sebagai pemakai produk. Maka dari itu, Perusahaan selalu memberikan perhatian yang maksimal terhadap hal ini agar tujuan dan cita-cita perusahaan bisa tercapai dengan otimal. Marketing atau pemasaran memang sangat penting bagi pencapaian  tujuan  perusahaan,  Lalu  apa  marketing  atau  pemasaran itu?

Definisi Marketing atau Pemasaran adalah suatu proses kegiatan menyeluruh dan terpadu serta terencana, Yang dilakukan oleh institusi untuk  menjalankan  usaha  guna  memenuhi  kebutuhan  pasar  dengan cara membuat produk, Menetapakan harga, Mengkomunikasikan, Dan mendistribusikan melalui kegiatan pertukaran untuk memuaskan konsumen dan perusahaan.

Dari  definisi atau  pengertian marketing diatas, Terlihat terdiri dari beberapa kalimat. Kalimat-kalimat tersebut antara lain:
a) Marketing   atau   pemasaran   merupakan   suatu   proses   kegiatan menyeluruh dan terpadu serta terencana.
b) Marketing atau pemasaran dilakukan oleh institusi.
c)  Marketing atau pemasaran untuk menjalankan usaha.
d) Marketing  atau  pemasaran  dilakukan  guna  memenuhi  kebutuhan pasar.
e) Marketing atau pemasaran dilakukan dengan cara membuat produk, Menetapkan harga, Mengkomunikasikan atau mempromosikan, Dan mendistribusikan melalui kegiatan pertukaran.
f)  Marketing   atau   pemasaran   untuk   memuaskan   konsumen   dan perusahaan.
Kalau melihat definisi marketing atau pemasaran diatas, Terlihat jelas bahwa marketing atau pemasaran memang mempunyai peranan yang sangat penting dalam kegiatan usaha. Karena merupakan proses kegiatan atau usaha yang menghubungkan antara perusahaa atau produsen dengan konsumen sebagai pemakai prouk. Dengan memberikan perhatian maksimal terhadap marketing atau pemasaran, Kepuasan   perusahaan   dan   konsumen   akan   bisa   tercapai   dengan optimal. Karena marketing merupakan kunci sukses dalam kegiatan usaha.



B. TAHAP PRAPRODUKSI. 

a) Desain Produksi
Pada tahap desain produksi ditentukan tujuan produksi, penentuan target-target, penyusunan kru, scheduling proyek, dan sebagainya. Tidak ada rumusan yang benar-benar baku pada tahap desain produksi ini, dan fleksibel tergantung skala proyek produksi.
Pada dasarnya, desain produksi ialah tahap pendefinisian proyek sedemikian rupa dalam segala aspeknya sehingga kelak pada akhir proyek dapat menjadi rujukan, apakah proyek produksi yang telah dijalankan   telah   memenuhi   kaidah-kaidah   yang   telah   ditetapkan. Contoh  perumusan  desain  produksi,  pada  proyek  produksi  profil sebuah instansi.

b) Tujuan Produksi
Misalnya, rencana produksi “profil video perusahaan ABCD” dirumuskan tujuan produksinya untuk  memberikan sekilas  pandang perusahaan tersebut dimana produk yang kelak dihasilkan akan dibagikan kepada para klien perusahaan serta para prospek klien.
Tujuan  produksi  ini  dapat  pula  dijabarkan  secara  lebih  detil menurut prinsip tujuan komunikasi, dimana di dalam komunikasi setidaknya ada 5 aspek yang harus diperhatikan, yaitu komunikator, komunikan (audiens), materi komunikasi (pesan yang hendak disampaikan), media komunikasi, dan cara penyaluran pesan. Tujuan produksi dapat pula secara spesifik menyebut tujuan-tujuan tertentu, misalnya : tujuan mengikuti festival film Indie, tujuan komersial, tujuan presentasi dan sebagainya.
Bahkan untuk sebuah tujuan eksperimental pun, sebaiknya dilakukan perumusan agar perumusan tujuan produksi ini kelak dapat dipakai sebagai rujukan saat menulis jurnal/evaluasi kegiatan.Pada proyek resmi dari instansi, tujuan produksi ini tercantum suatu Term of Reference (Kerangka Acuan Kerja).

c) Penentuan Target-target
Ini masih berkaitan erat dengan perumusan tujuan di atas, tapi dengan   memakai   indikator   yang   lebih   terukur.   Misalnya,   target
keberhasilan penyampaian pesan, target  pencapaian finansial, target pencapaian kualitas gambar, target jumlah audiens dan sebagainya.

d) Penyusunan Kru
Berbeda  dengan  produksi  film  komersial  (apalagi  film Hollywood)   yang   dikerjakan   oleh   banyak   kru   dengan   tugas   dan keahlian masing-masing, suatu home video dapat dikerjakan oleh suatu tim  kecil  dengan  tugas  serba  rangkap.  Sejumlah  aspek  pekerjaan penting ialah produser, penulisan skenario, penyutradaraan, kameramen, pencahayaan, make up & wardrobe, penata artisitik dan editing.
Tidak masalah dengan keterbatasan sumberdaya manusia yang dapat  terkumpul  di  dalam  kru  produksi,  yang  lebih  penting  ialah adanya kejelasan soal pembagian tugas dan deskripsi job masing- masing. Misalnya dapat berbentuk tim kecil beranggotakan 3 orang, dimana seorang berperan rangkap sebagai produser/penulis skenario/penyutradaraan, seorang sebagai kameramen/editor, dan seorang sebagai lighting man/penata artistik.  Penjelasan lebih lengkap tentang susunan kru yang lebih ideal.

e) Scheduling Proyek
Scheduling proyek memegang peranan yang amat penting dalam pencapaian efektivitas dan efisiensi produksi, terutama kegiatan produksi   (shooting   video)   dimana   terlibat   banyak   sumberdaya manusia, pemain dan peralatan shooting video yang digunakan. Idealnya, suatu pengambilan gambar telah direncanakan dan dijadwalkan pada tenggang waktu yang  cukup sebelumnya sehingga semua pihak yang terlibat dalam shooting video tersebut dapat mempersiapkan diri dengan baik untuk menunaikan peran/tugasnya masing-masing,  yang  melibatkan  kesiapan  mental,  fikiran  dan peralatan.
Scheduling proyek juga amat berguna bagi semua pihak yang terlibat dalam produksi video untuk mengukur sejauh mana kemajuan suatu proyek pada saat-saat tertentu, agar dapat melakukan evaluasi proyek berjalan.

f)  Pembuatan Skenario
Pembuatan skenario, meskipun lazimnya dilakukan dalam proses produksi film komersial, namun dapat diadaptasi untuk proses pembuatan produk audio-visual lainnya dengan penyesuaian seperlunya. Hal ini dimungkinkan karena film dibuat untuk menyampaikan pesan komunikasi secara visual, sebagaimana di sini kita akan membuat sejumlah produk video juga sebagai media untuk menyampaikan pesan komunikasi.
Prinsip-prinsip umum di bawah ini kelak akan dibahas lagi secara singkat cara penerapannya dalam konteks produksi masing-masing produk video di bagian ragam produksi.


EMPAT ASPEK DALAM PENULISAN SKENARIO :


 Konsep  cerita,  dirumuskan  dalam  sebuah  kalimat  tunggal  yang menjelaskan tokoh utama dalam film dan apa yang ingin diperbuat atau diperjuangkannya.

 Karakterisasi (perwatakan), yaitu tokoh-tokoh yang terlibat dalam cerita. Setiap tokoh dijelaskan karakter dasarnya dengan penekanan penjelasan pada tokoh-tokoh utama. Perbedaan karakter ini akan memainkan  peranan  penting  yang  melatarbelakangi  bagaimana
setiap tokoh bersikap dan bertindak tentang suatu isu/masalah. Seperti kita ketahui, sekelompok manusia dapat bersikap dan melakukan tindakan yang sama meski masing-masing memiliki pikiran/motivasi yang berbeda. Sebaliknya, sekelompok manusia dapat bersikap dan melakukan tindakan yang berbeda meski memiliki kesamaan pikiran/motivasi. Dengan demikian dapat dipahami bahwa kombinasi karakter dan isu yang unik dapat melahirkan cerita yang menarik.

 Alur cerita ; rangkaian kejadian dan hubungannya dengan karakter.
Bagaimana kejadian demi kejadian dirangkai menjadi suatu cerita akan   amat   menentukan keberhasilan   terjalinnya   cerita   yang menarik. Contoh : sebuah  film yang  diawali adegan pembunuhan sadis oleh seseorang terhadap korbannya yang “tak bersalah” akan menimbulkan rasa penasaran pemirsa, ketimbang jika lebih dulu ditampilkan gambar  kejadian  yang  menyajikan fakta  bahwa  pada masa  kecilnya  si  pembunuh  tersebut  seringkali  mendapat penyiksaan dari orangtuanya sehingga ia menderita kelainan jiwa. Untuk memancing proses kreatif dalam menyusun alur cerita, dapat diajukan pertanyaan-pertanyaan berikut : “bagaimana jika hal buruk ini terjadi, yaitu hal yang merintangi usaha tokoh utama mencapai tujuannya? bagaimana pula jika terjadi hal lain lagi?” Kejadian demi kejadian ini juga harus dapat membangun emosi pemirsa, misalnya
karena secara bergantian adegan-adegan kejadiannya mengandung ketegangan, tawa dan airmata.

 Perancangan adegan  per adegan; rangkaian rencana pengambilan gambar yang meliputi dialog, akting, set properti, setting lokasi, dsb. Dapat dengan mudah dibayangkan tentang suatu cerita yang memiliki konsep cerita, karakterisasi dan alur cerita yang menarik, tapi lantas berakhir menjadi film yang buruk karena kelemahan dialog, akting, setting lokasi dan properti?
Penulis skenario yang berpengalaman pun belum tentu dapat menulis skenario “sekali jadi”. Yang lazim terjadi ialah dibuatnya “draft skenario” untuk kemudian dipelajari  lagi demi mendapatkan ide-ide pelengkap untuk finishing pembuatan skenario tersebut.
Bahkan  bagi  scenario  yang  sudah  jadi  pun,  terjadinya  revisi skenario merupakan hal yang lumrah terjadi. Sejumlah pertanyaan berikut ini harus dipertimbangkan saat menulis skenario, baik tahap awal maupun tahap lanjutan :

 Siapakah yang punya cerita ini? Tokoh utama dengan isu pokoknya harus jelas, jangan sampai tokoh pendukung memiliki karakterisasi lebih kuat dengan isu yang lebih menarik.

 Dari sudut pandang cerita siapa film akan dibuat, apakah dari tokoh utama, atau pihak ke-2 (orang yang diajak berdialog langsung oleh
tokoh utama), atau dari pihak ke-3 yang mengamati tokoh utama dari luar.

 Di   mana   bagusnya   adegan   akan   berawal,   dimana   pula   akan berakhir?

 Apa poin-poin dari tiap adegan yang dirancang, akan mengarah ke mana?

 Apa   informasi   terpenting  yang   diperlukan   pemirsa   dari   suatu adegan tertentu?

 Apakah adegan tertentu benar-benar berkaitan dengan cerita, dan menggerakkan  cerita  menuju  akhir?  Jika  tidak,  adegan  ini berpotensi “melambatkan cerita” dan menimbulkan kebosanan kepada pemirsa.

 Selalu  mengingat  bahwa  adegan  ialah  bahasa  gambar.  Idealnya, gambar murni yang tanpa dialog sudah bisa menyampaikan pesan komunikasi yang hendak disampaikan.

 Selalu mengingat untuk “mengolah gambar”, “merancang konflik”, dan “membaur emosi”

 Bagaimana membuat keterkaitan yang menarik antar satu adegan dengan adegan lainnya?

 Apakah terjadi perulangan adegan? Adegan yang benar-benar sama tentu saja hampir mustahil terjadi. Yang dimaksudkan disini ialah terjadinya  sejumlah  adegan  yang  sebenarnya  mengandung  pesan komunikasi yang mirip/sama. Saat pemirsa melihat suatu adegan lalu berhasil menangkap pesannya, lalu kepadanya disuguhkan adegan lain yang baginya punya pesan yang sama dengan adegan sebelumnya. Tentu saja ia akan menjadi bosan.

 Apakah   adegan   datar   (minim   konflik,   minim   emosi,   minim informasi)? Jika ya, bagaimana caranya agar timbul suatu yang dramatis  atau  luarbiasa  terjadi,  bahkan  dari  “hal-hal  yang  sepele atau biasa?”

 Apakah pemirsa akan tertarik dengan semua rangkaian gambar ini?


SUMBER POTENSI KREATIF BAGI PENULISAN SKENARIO

Salah satu wujud kreativitas ialah kemampuan memilih antara mana yang perlu dan mana yang tidak perlu dirangkai dalam suatu cerita.

 Penggalian fakta terhadap setting cerita dan karakter yang akan di- skenario-kan. Misalnya, penulisan skenario film “Slumdong Millionaire” tentu mustahil dilakukan jika tidak melakukan riset terhadap bentuk kehidupan miskin di India.

 Penggalian pemahaman dan pengetahuan yang telah ada. Penulis skenario sebelumnya telah memiliki nilai-nilai dan pemahaman tertentu atas isu tertentu hasil dari kehidupannya selama ini. Hal ini dapat digali untuk mendapatkan hal-hal menarik (mungkin ironi) dibandingkan dengan fakta yang telah digali.

 Penggalian imajinasi. Bagaimana suatu masalah dapat timbul dan terselesaikan dari benturan nilai-nilai dan kepentingan yang sudah ada atau potensial terjadi.


g) Format Skenario
Perancangan skenario sendiri lebih berupa “aspek mental yang abstrak” dari seorang penulis skenario yang dapat dituangkan ke dalam berbagai bentuk (tulisan) sesuai keperluannya. Pada produksi sebuah film, skenario dituangkan dalam format standar tertentu yang dimaksudkan agar kru produksi yang terlibat mengetahui perannya masing-masing saat pengambilan gambar.
Namun untuk sebuah produk skala kecil dengan tim kecil, skenario dapat diadaptasi menjadi rumusan bersama yang sederhana, asal dapat dimengerti dan menjadi acuan kerja kru produksi (misalnya kameramen, sutradara, lighting man). Contoh skenario sederhana pada workshop film pendek

h) Storyboard
Storyboard ialah rangkaian gambar ilustrasi yang berusaha menjelaskan bahasa tulisan skenario ke dalam bahasa visual. Adegan
demi adegan cerita yang sebelumnya telah dirumuskan dalam skenario diterjemahkan menjadi gambar oleh sutradara dengan bantuan kameramen dan storyboard artist, sedemikian rupa sehingga dalam potongan-potongan gambar ilustrasi yang dihasilkan terhimpun informasi tentang para pelaku adegan, adegan yang dilakukan, lokasi dan properti, sudut pengambilan gambar, dan sebagainya.

Contoh Storyboard



Pada kenyataan dalam praktek, keberadaan storyboard merupakan “barang mewah”, yaitu meskipun memang dirasakan manfaat besarnya, namun kesulitan pengerjaannya membuat suatu tim produksi sering mengabaikannya dengan melewati proses ini, dan menyerahkan  pelaksanaan  shooting  video  kepada  kemampuan langsung  di  lapangan.  Salahsatu  kendala  yang  sering  dihadapi  ialah tidak tersedianya tenaga ilustrator gambar.

i) Layout
Layout ialah bentuk lanjutan dan terakhir dari kegiatan pra produksi. Di sini, gambar-gambar storyboard dirangkai dalam suatu kegiatan editing video, sesuai skenario (di-scan sebelumnya), bagaikan hasil shooting video yang sudah selesai diambil.
Elemen-elemen   lain   ditambahkan   seperlunya   sekedar   untuk mencari gambaran awal dari “produk yang telah selesai”, misalnya dubbing narasi dan musik ilustrasi.  Hasil akhir layout ini dapat berupa file video yang dapat disaksikan bersama oleh kru produksi dan klien, jika ada. Layout ini amat bermanfaat, antara lain :
• Kru produksi (maupun klien) mendapat gambaran yang lebih jelas tentang produk yang akan dihasilkan. Banyak  orang yang daya imajinasinya tak cukup tinggi untuk bisa membayangkan hasil akhir sebuah   produk   dari   sebuah   skenario,   yang   mengerti   tentang rencana produksi dengan adanya layout ini.
• “Pace”  dari  video  dapat  terasa.  Idealnya,  video  menyampaikan pesan/informasi yang berkembang setiap saat dengan kecepatan yang tepat.   Video   yang   “terlalu   cepat”   akan   membingungkan pemirsa, sedangkan yang terlalu lambat akan membuat pemirsa bosan dan bahkan tertidur. Jika disadari pace yang kurang sesuai, akan  menjadi  catatan  dalam  kegiatan  editing  video  kelak,  untuk
memanjangkan atau menyingkat adegan-adegan tertentu dalam rangka perbaikan pace ini.
• Peran  ilustrasi  musik  terhadap  pembentukan  mood  video  dapat terasa,  dan  editor  dapat  ber-eksperimen  dengan  backsong  yang akan digunakan kelak.
• Secara  teknis,  pembuatan  layout  ini  juga  amat  membantu  editor kelak saat berkegiatan editing video. Karena potongan gambar ilustrasi tersebut sudah diatur tempat dan durasinya sedemikian rupa sehingga kelak hanya tinggal diganti dengan hasil shooting video.
• Secara  mental,  kru  produksi  akan  merasa  bahwa  “video  sudah hampir selesai”, dan tinggal mengisi potongan-potongan gambar ilustrasi tersebut dengan hasil shooting video.


C.  TAHAP PRODUKSI BRANDING DAN MARKETING.

Pada Tahap Produksi pengambilan gambar (shooting video) dilakukan, idealnya hingga tuntas. Kebutuhan shooting video sebelumnya telah dirumuskan pada tahap Pra Produksi, idealnya dalam bentuk storyboard  yang  mencakup  banyak  informasi  termasuk  sudut pengambilan gambar (angle).

Pada  kebanyakan  film  komersial,  kegiatan  shooting  merupakan tahapan   kegiatan   yang berbiaya   produksi   paling   tinggi   disebabkan keterlibatan   banyak   kru,   pemain   (aktor/aktris) itu   sendiri,   serta pemakaian alat-alat canggih yang dibayar sebagai sewa harian. Karena itu dapat dengan mudah dipahami bahwa kegiatan Pra Produksi yang baik dapat menuntun jalannya kegiatan produksi agar berjalan dengan efektif dan efisien.

Meskipun kegiatan produksi pada film komersial mencakup banyak hal yang kompleks, namun pada artikel lainnya di sini hanya akan dijelaskan isu-isu mendasar seputar kegiatan shooting video yang sering dihadapi oleh para kameramen amatir.



D. TAHAP PASCA PRODUKSI BRANDING DAN MARKETING.

Pada Tahap Pasca Produksi semua bahan mentah produksi dikumpulkan untuk diolah. Analoginya, ialah seorang koki yang membawa semua bahan masakan dan bumbu ke dapur, untuk diolah sesuai resep yang telah ada. Dalam hal ini “bahan masakan” ialah hasil shooting video, “bumbu” ialah bahan pendukung lain seperti klip animasi, sound efek, dan lain-lain serta “resep” ialah skenario itu sendiri.

Dengan demikian mudah dipahami jika kelancaran kegiatan editing video amat ditentukan oleh “skenario yang baik/jelas” serta “kelengkapan hasil shooting video dan elemen penunjang lain”. Jika keadaan ini tercapai, maka   proses   editing   video   ini   dapat   dilakukan   sambil   dinikmati. Sebaliknya,  jika  skenario  “amburadul”  dan  stok  gambar  hasil  shooting video tidak menunjang, tentu saja pelaku editing video akan kebingungan dalam bekerja.

Bahkan tampaknya memang demikian yang banyak terjadi pada pelaku produksi home video maupun pelaku bisnis UKM, yaitu memulai kegiatan editing video padahal konsepnya masih blank, sedemikian rupa sehingga perlu waktu berjam-jam nongkrong di depan layar komputer untuk mencari inspirasi atau melakukan sejumlah eksperimen.

Hal itu menjadikan editing video seperti kegiatan yang amat sulit dikerjakan,  padahal  harusnya  tidak  demikian  jika  perumusan  konsep produksi   video   telah   dilakukan   bahkan   sebelum  shooting   pertama dilakukan.





================
pustaka: https://www.academia.edu/8291016/SIMULASI_DIGITAL_MENERAPKAN_VIDEO_UNTUK_BRANDING_DAN_MARKETING_

Share and Enjoy:

0 komentar for this post

Leave a reply

silahkan tinggalkan pesan saran dan kritik anda

We will keep You Updated...
Sign up to receive breaking news
as well as receive other site updates!
Subscribe via RSS Feed subscribe to feeds
Sponsors
Template By Jatipurboindodax.compowerfulmining.com
Template By jatipurbo.blogspot.comjatipurbo.blogspot.comjatipurbo.blogspot.com
Popular Posts
Recent Stories
Connect with Facebook
Sponsors
Fans Page FB
Youtube: sepak bola di atas air